Tuesday, December 10, 2013

Media VS Kita


Umur ternyata hanya benar2 sederet angka saja yang menandakan sudah berapa tahun dia hidup di dunia.  Umur sungguh bagi beberapa orang sama sekali tidak berbanding lurus dengan kedewasaan.  Pun jenjang pendidikan tinggi dan banyak makan asam garam kehidupan tidak memberikan pengaruh besar terhadap sebuah kedewasaan.  

Seperti pada sebuah berita yang mungkin beberapa minggu lalu masih panas, tapi sekarang mungkin sudah agak redup *LEBIH BAGUS LAGI KALO GAK ADA!!!* Tentang sebuah perdebatan TAK BERMAKNA antara seorang pengacara yang juga suami dari seorang penyanyi lawas dengan anak abg dari seorang musisi kondang.  Lihat saja dari jenjang pendidikannya, kurang apa coba tingginya lihat saja juga lawannya, meski masih abg tapi kalau dilihat dari pekerjaan orang tuanya, dia pun pasti mengenyam pendidikan di tempat yang berkualitas.  Tapi lihat apa tingkah polahnya didepan umum, MEMALUKANJujur memang gak ngikutin ceritanya dari awal, jadi disini mencoba tidak memihak satu pun dari mereka.  Kalo gak salah awal mulanya adalah olok mengolok satu sama lain yang berbuah panjang.  Memang benar kata pepatah 'lidahmu, harimaumu'  Sekarang jaman canggih, bukan lidah lagi yang mengejek, tapi disalurkan lewat jari jemari.  Seketik dua ketik kata, mampu menusuk dan menyayat ulu hati seorang teman nun jauh disana, naudzubillah.  Dan emang dasar media, berita seperti ini gak boleh dibiarkan,langsunglah diekspos dan mungkin dibesar-besarkan.  

Bahkan akan beradu tinju pula, Ya Allah mau jadi apa ??? harusnya yang tua memberi contoh baik, menjadi suri tauladan kepada yang muda, dan yang muda hendaklah sopan dan hormat pada yang tua.  Media juga gitu, yang kayak beginian mbok ya gak usah diberitakan, meski ini ladang uang.  Kasihanilah mereka, anak2 kami yang tumbuh di dunia yang serba canggih, dunia internet yang sangat mudah untuk mencari akses berita, dunia televisi dan gadget canggih yang membuat mereka lupa akan bersosialisasi.  Kasihani kami para orang tua baru yang berjuang keras mendidik anak saingan dengan kejamnya bbm,whatsapp,facebook,belum lagi seks bebas yang malah akan disponsori oleh pemerintah dengan adanya bagi2 kondom gratis -woi!! ini bukan eropa bung!!-  Jangan pula engkau tambah dengan berita yang tidak bermakna ini.  Beritakanlah hal2 yang bagus2 saja, yang memberitakan tentang prestasi, sehingga anak2 kami semakin termotivasi.  Jangan engkau jejali mereka dengan goyang2 cesar, bagaimana jika kau ganti dengan cerita mengenai kehebatan julius cesar yang asli.  Juga berita2 mu di koran yang bikin ku sakit kepala.  Kenapa selalu yang berada di garda depan halaman koran itu berita2 negatif.  Seringnya korupsi, atau pembunuhan, kerusuhan, kecelakaan dan masih banyak lagi berita negatif lainnya.  Yang ada orang jadi down duluan baca berita.  Coba kenapa tidak kau ubah persepsi media cetak seperti itu menjadi kebalikannya.  Headline didepan tentang prestasi2 anak negeri -negeri orang lain juga gak papa kok-, para enterpreuner muda -yang sekarang lagi ngetrend- Bukannya malah ditaruh di koran tambahan, di halaman tengah pula, mana kelihataaaaan.      

2 comments:

Ms. Barokah said...

it's because they're selling news, El. That's why.. :(

Makanya sekarang kalo ga pinter2 nyaring, berbaik sangka, etc, mending ga usah nonton tivi atau baca koran sekalian. hehe... pusiiing.

la bóheme said...

bener banget ris, apalagi tv...ya ampuuun,itu acara infotainment dari yang dikemas ala bungkusan a sampe z ada semua..boong banget kalo ngeliat acara gosip cuman diliat doang buat ngikutin perkembangan artis, ujung2nya pasti mencela, minimal ikutan ngomentarin *pengalaman pribadi =.=